Site icon Risalahnegeriku

Dibuka untuk Umum, Simak Syarat dan Cara Berkunjung ke Istana Kepresidenan Yogyakarta

JAKARTA – Istana Kepresidenan Yogyakarta, yang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Agung, kini secara resmi membuka pintu bagi masyarakat luas untuk merasakan pengalaman kunjungan edukatif melalui program Istana untuk Rakyat (ISTURA). Inisiatif ini memungkinkan masyarakat dari berbagai kalangan—mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga instansi pemerintah dan swasta—untuk mengenal lebih dekat sejarah bangsa, menikmati koleksi seni bernilai tinggi, serta melihat secara langsung salah satu simbol kedaulatan negara. Program kunjungan ini diselenggarakan tanpa memungut biaya sepeser pun sebagai upaya mendekatkan simbol negara dengan rakyatnya.

Untuk dapat mengakses program ini, calon pengunjung diwajibkan melakukan reservasi terlebih dahulu melalui sistem pendaftaran daring di situs resmi www.isturaiky.page. Kunjungan dijadwalkan berlangsung setiap hari Senin hingga Kamis dengan pilihan sesi mulai pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Bagi instansi atau organisasi, terdapat persyaratan administratif berupa pengiriman surat permohonan resmi yang mencakup identitas koordinator, jumlah peserta, hingga tujuan kunjungan. Setelah data diri dan dokumen pendukung diunggah, tim admin akan melakukan verifikasi sesuai dengan kuota yang tersedia, di mana pemberitahuan persetujuan akan dikirimkan kepada calon pengunjung melalui layanan pesan WhatsApp dalam kurun waktu satu hingga tiga hari kerja.

Gedung Agung sendiri merupakan bangunan bersejarah yang telah berdiri sejak tahun 1824. Awalnya difungsikan sebagai kantor Residen Belanda, bangunan dengan arsitektur klasik Eropa ini tetap mempertahankan karakter historisnya di tengah pusat Kota Yogyakarta yang dinamis. Daya tarik utama dari tur ISTURA adalah Museum Istana Kepresidenan, tempat tersimpannya berbagai koleksi seni maestro Indonesia seperti Raden Saleh, Affandi, Basoeki Abdullah, dan Dullah, serta beragam artefak sejarah, patung perunggu, dan keramik antik yang menjadi saksi perjalanan bangsa Indonesia.

Selama tur berlangsung, pengunjung akan didampingi oleh pemandu resmi yang akan memberikan penjelasan mendalam mengenai nilai sejarah setiap ruangan serta koleksi yang dipamerkan. Guna menjaga kelestarian aset negara yang tak ternilai harganya, terdapat aturan ketat yang harus dipatuhi pengunjung, di antaranya adalah larangan menyentuh etalase museum, patung, maupun lukisan, serta larangan penggunaan lampu kilat (flash) saat melakukan dokumentasi foto di area yang telah diizinkan. Melalui penerapan aturan dan edukasi yang terstruktur, program ISTURA diharapkan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif bagi masyarakat mengenai peran vital gedung bersejarah ini dalam sejarah kepemimpinan dan perjalanan bangsa Indonesia.

Exit mobile version