Site icon Risalahnegeriku

Pimpinan Polisi Teladan, Citra Polisi Melesat di Masyarakat

Pimpinan Polisi Teladan, Citra Polisi Melesat di Masyarakat 2

Pimpinan Polisi Teladan, Citra Polisi Melesat di Masyarakat 2

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo yang resmi dilantik sebagai Kapolri, Rabu (27/1/2021) lalu? Beliau diharapkan mampu memperbaiki citra kepolisian dalam kasus HAM dan memberantas korupsi. Ternyata Listyo Sigit Prabowo memiliki kisah perjalanan hidup yang cukup menarik. Mari kita simak fakta terkait beliau. Kisah menarik dan inspiratif mengenai perjuangan anak muda yang ingin selalu menjadi manusia berguna akhirnya bisa menjadi anggota Polri melalui jalur Akademi Kepolisian ditahun 1991 dan bukan juga mimpi ternyata beliau ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi Kapolri kedepan mengantikan Idham Aziz yang pensiun pada tanggal 1 Febuari 2021 lalu. Bagaimana kisah Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam menapaki karirnya yang gemilang? Bagaimana beliau menghargai prestasi pendahulunya? Bagaimana pentingnya citra pimpinan Polri menaikkan citra polisi? Citra pimpinan Polri seperti apa yang didambakan masyarakat? Apakah Polri pernah memiliki sosok citra teladan tersebut?

Jakarta, 7 Juni 2021 – Listyo Sigit Prabowo, seorang Jenderal Polri yang saat ini sebagai Kapolri lahir di Ambon, Maluku pada 5 Mei 1969 ini menjalani pendidikan dari sejak sekolah dasar hingga mendaftar masuk ke Akademi Kepolisian. Setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Kepolisian pada tahun 1991, Komjen Listyo Sigit Prabowo melanjutkan pendidikan master di Universitas Indonesia dengan tesis tentang penanganan konflik etnis di Kalijodo. Listyo pernah beberapa kali menduduki jabatan di daerah Jawa Tengah. Tercatat, Listyo pernah menjadi Kapolres Pati. Setelah itu, dia menduduki posisi Wakapoltabes Semarang, dan pernah menjadi Kapolres Solo.

Pada tahun 2012, Listyo dipindahtugaskan ke Jakarta untuk menjabat sebagai Kasubdit II Dit Tipdum Bareskrim Polri. Sejak bulan Mei 2013, dirinya bertugas di Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara. Menjabat sebagai Kapolda Banten pada tahun 2016. Dan kabarnya sepanjang menjabat sebagai Kapolda, beliau rajin sekali blusukan dan bersilaturahmi dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Dan ternyata beliau ini memiliki kegiatan yang cukup mulia, yakni memelihara anak yatim ataupun anak yang sengaja ditelantarkan oleh orang tuanya. Serta beliau juga senang sekali memberangkatkan ulama baik untuk berangkat naik Haji maupun untuk Umroh. Keren sekali bukan?

Selanjutnya menjabat sebagai Kadiv. Propam Polri pada tahun 2018 yang mengantarkan beliau memperoleh dua bintang di pundak yaitu sebagai Inspektur Jenderal Polisi. Jabatan ini adalah jabatan yang ditakuti bawahan dan juga disegani kawan bahkan atasan, karena Propam Polri adalah Divisi yang bertanggungjawab pada masalah pembinaan profesi dan pengamanan masalah dalam internal organisasi Polri. Dan beliaulah pimpinan tertingginya saat itu. Dan setahun kemudian sampai beliau menjabat sebagai Kabareskrim Polri yang mengantarkan beliau menyandang tiga bintang di pundak, yaitu sebagai Komisaris Jenderal Polisi. Dari sinilah sinar benderang beliau terlihat melalui berbagai pengungkapan kasus di bawah pimpinannya.

 Prestasi dan Rekam Jejaknya

Berdasarkan keterangan Polri, Listyo sudah menangani kurang lebih 485 perkara korupsi dan berhasil menyelamatkan uang negara lebih dari Rp310 triliun. Dia juga disebut ikut menangkap buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cassie) Bank Bali Djoko Tjandra di Malaysia, 2020. Sedangkan berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang terakhir kali dilaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Desember 2019, Listyo memiliki total harta kekayaan Rp8,3 miliar. Itu terdiri dari tanah dan bangunan senilai Rp 6.150.000.000 yang tersebar di beberapa daerah. Dalam laporannya, Listyo hanya memiliki alat transportasi berupa mobil Toyota Fortuner produksi 2018 seharga Rp 320.000.000. Selain itu, Listyo tercatat memiliki harta bergerak lainnya sebesar Rp 975.000.000 serta kas dan setara kas senilai Rp 869.735.000. Hingga hari ini, belum terdapat data terbaru harta kekayaan Kapolri ini. Padahal, setiap pejabat penyelenggara negara diwajibkan melaporkan LHKPN kepada KPK secara periodik per tanggal 31 Desember tahun laporan. Hal ini mengacu pada Peraturan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 2 tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Komisi pemberantasan Korupsi Nomor 07 tahun 2016 tentang Tata Cara Pendaftaran, Pengumuman, dan Pemeriksaan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara.

Nah, itulah tadi rekam jejak prestasi beliau semasa bertugas. Bagaimanakah dengan keseharian beliau di dalam keluarga dan lingkungan sosial? Coba kita intip sedikit dari cerita dan informasi yang bisa diperoleh dari orang sekitar beliau. “Pak Listyo ini sosok yang sangat menghormati guru. Selain bertemu dengan guru-guru, saat acara itu pak Listyo juga berbagi pengalaman serta memotivasi siswa-siswi SMAN 8 untuk tidak ragu melangkah dan mempersiapkan diri selepas SMA,” terang Nunik dari SMAN 8 Yogyakarta.

SMAN 8 Yogyakarta adalah sekolah dimana beliau menimba ilmu sebelum masuk ke AKABRI Kepolisian pada tahun 1988. Menurut Nunik, saat menghadiri acara reuni, Listyo Sigit selalu memohon doa restu kepada mantan gurunya agar dalam menjalankan tugas diberikan kelancaran. Delapan guru yang dulu mengajar Komjen Listyo Sigit hadir di acara tersebut merasa banga akan prestasi yang diukir anak didiknya.

Di mata Nunik, Sosok Komjen Listyo memang bukan orang asing. Mantan Kapolres Surakarta itu bahkan menurut Nunik adalah salah satu alumni yang sangat peduli dengan para mantan gurunya. Bahkan, meski sudah berstatus perwira tinggi Polri. Mantan Kapolda Banten itu selalu menyempatkan hadir dalam kegiatan reuni yang berlangsung di sekolahnya.“Saat reuni akbar di 2019 di Lustrum 9 SMA 8, beliau juga hadir, juga Aksi Sosial Pakci di awal 2020 beliau juga hadir,” Ujar Nunik. Jaringan-jaringan yang pernah dibangunnya dan semangat kekeluargaan Jenderal bintang tiga ini teruslah dipelihara dan diperluasnya. Sehingga bukan saja ketika menjadi Kapolda Banten, Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo selalu peduli dan membantu seperti Pondok Pesantren (Ponpes) yang dulu pernah dikenalnya.

Suami dari Juliati Sapta Dewi Magdalena terkadang bertindak atas nama pribadinya bukan karena jabatannya. Hal ini diungkapkan KH Suryana bahkan kagum dengan sosok mantan orang nomor satu di Polda Banten tersebut. Listyo kata KH Suryana adalah pria yang dikenal ramah ini tidak pernah melupakan masyarakat dimanapun dia bertugas. Meskipun, saat ini tidak lagi memimpin Polda Banten. Listyo bukan hanya membantu bangunan Masjid dan Pondok Pesantren, marbot masjid dan mushola yang diberangkat umrah gratis. Marbot adalah orang yang bertanggungjawab mengurus keperluan langgar/surau atau masjid, terutama yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut. Adakalanya, seorang marbot juga mengurusi hal-hal yang berurusan dengan ibadah, seperti azan, menjadi imam cadangan. Selain bangunan Masjid dan Marbot yang diberangkatkan gratis Umrah. Ternyata Sigit dan istrinya juga membantu anak-anak terlantar. Ada yang ditampung di tempat penampungan. Dan, ada pula yang dibantu biaya sekolahnya, tetapi anak tersebut tinggal bersama orang tuanya.

Hal senada diungkapkan pimpinan Ponpes Bahrul Ulum, Banten, KH. Saharni. Ia turut mendoakan Listyo Sigit Prabowo. “Semoga beliau sekeluarga selalu diberikan kesehatan dan ketegasan dalam menjalankan tugas-tugasnya demi menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar,” ucap KH. Saharni. Ia menegaskan bahwa alim uIama di Banten selalu siap membantu dan mendoakan ayah dari Cornelius Krishna Satya Patria Wardhana ini. Menurutnya, beliau itu amanah dalam pekerjaanya, kami siap membantu. Terutama dalam memberantas kemaksiatan. Lebih dari itu kata KH Saharni menambahkan bahwa tindakan yang dilakukan Listyo sangat mulia dan terharu.

Ia mengatakan bahwa para santri maupun alim ulama di Banten selalu siap membantu dan mendoakan ajudan Presiden 2014 ini. “Selama beliau amanah dalam pekerjaannya, kami siap membantu. Terutama dalam memberantas kemaksiatan,” tuturnya. Semua yang Sigit lakukan tidak atas nama jabatan atau posisinya. Melainkan atas nama pribadinya semata. Bahkan, bantuan yang dia lakukan luput dari Media. Ternyata tidak hanya cemerlang sebagai seorang Jenderal, Ataupun seorang yang memiliki Jiwa Sosial yang tinggi sebagai sebagai seorang kepala keluarga pun beliau memiliki keluarga yang harmonis dan berprestasi.

Keberhasilan seorang anak tentulah tidak pernah lepas dari doa orang tua yang selalu menyertai setiap langkah perjalanan anak tercintanya. Itulah doa yang selalu disematkan almh. ibunda Listyo Sigit Prabowo, kenang sang Jenderal. Setiap saat iringan doa orangtua adalah tuntunan sehingga keberhasilan dalam tugas pengabdian sebagai aparat penegak hukum dan juga sebagai kepala keluarga selalu mengiringi langkah suksesnya.

Puji Prestasi Kapolri Sebelumnya

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melontarkan sejumlah pujian kepada Jenderal Idham Azis yang telah memimpin Korps Bhayangkara yang kini ia gantikan. Listyo menyebut bahwa kepemimpinan Idham Azis selama dia menjadi anak buahnya berjalan dengan sangat baik. Dia bahkan mengibaratkan Idham sebagai elang pemimpin. Menurutnya, sosok jenderal bintang empat yang pensiun Februari nanti adalah sosok yang bertanggung jawab.

Listyo pun menegaskan bahwa keberhasilannya selama memimpin Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri juga merupakan campur tangan dari sosok Idham azis. Dia menuturkan, selama ini banyak menerima banyak masukan dari Idham selama memimpin pucuk pimpinan Korps Bhayangkara sehingga dirinya bisa banyak mengungkap banyak kasus-kasus yang menarik perhatian publik. “Tentu berkat dukungan dan arahan beliau. Beliau adalah sosok senior yang saya kagumi dan senantiasa menjadi teladan dan role model dalam kedinasan maupun kehiupan sehari-hari,” tambahnya lagi.

Listyo juga menyinggung tentang tradisi baru di Korps Bhayangkara untuk mengantar calon pimpinannya ke DPR RI untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Hal itu, kata dia, diinisiasi oleh Idham Azis sehingga harus dijaga dan diwarisi selalu. Menurutnya, langkah itu dapat menunjukkan soliditas di internal kepolisian terjalin dengan baik.”Terima kasih Bapak Jenderal Idham Azis yang memberikan semua ini,” ucapnya.

Sosok Pimpinan Polri Sederhana

Perilaku teladan sosok Kapolri sebelumnya Jenderal Polisi Idham Aziz yang selalu berpenampilan sederhana. Tampilan sederhana sosok Kapolri ini sering menjadi perbincangan di sosial media. Pada bulan Januari 2020, misalnya, foto Kapolri viral gara-gara mengenakan sandal jepit dan makan kue lapis saat mengunjungi rumah orangtuanya. Foto unik itu lalu diposting Polres Jambi-Sumatera. Ditempat lainnya, foto Idham juga viral saat membeli pakaian untuk diberikan kepada anggotanya yang pakaian seragam dinasnya sudah kusam warnanya. 

Kapolri juga banyak mendapatkan perhatian saat berada di Mamuju, Sulawesi Barat, ketika ia membuat pernyataan untuk mengoreksi anak buahnya. Ia mengkritik Kapolres dan keluarga yang memiliki gaya hidup berlebihan dan meminta supaya kapolres tersebut membiasakan diri hidup sederhana. Idham bercerita ada istri Kapolres ketika berada di bandara semua anggota dibuat sibuk mengurusnya.

Pemandangan ini membuat orang lain yang ada di bandara melihat sinis terhadap Polri dan keluarganya. Bila dibandingkan dengan ibu negara Iriana Jokowi, jauh bedanya. Ibu Jokowi saja cuma diantar dua Paspamres saat pulang ke Solo dan duduk di ruang tunggu umum seperti warga biasa. Polri harus berubah, polri harus mencontoh Ibu Jokowi kalau ingin semakin dicintai masyarakat.” kata Kapolri menasehati anak buahnya.

Dalam berbagai kunjungan kerja kapolri ke wilayah, Idham Azis juga seringkali mendapat sorotan publik karena menolak disambut dengan upacara berlebihan baik itu di bandara maupun di Polda.  Kapolri mengingatkan cukup Kapolda atau Wakapolda yang menjemputnya. Anggota yang lainnya mengerjakan tugas seperti biasanya melayani masyarakat dan tugas tugas lainnya.  Begitu juga kamar hotel tidak perlu disiapkan oleh Polda karena biaya perjalanan dinasnya sudah ada disiapkan negara.

Hoegeng Sosok Pimpinan Polisi Teladan

Jauh sebelumnya, pada zaman orde baru di decade 1970-an, terkenal pribadi primpinan Polri yang jadi legenda yaitu Jenderal Hoegeng. Ia merupakan figur polisi yang punya kerendahan hati, kelembutan serta kasih sayang dalam penampilan pribadi yang takwa, arif, bijaksana dan penuh kesederhanaan. Yang sesungguhnya adalah potret dari seorang polisi ideal yang “pada zamannya” justru memperoleh predikat bagi Pak Hoegeng sebagai polisi “aneh yang menentang jaman”. Pak Hoegeng merupakan contoh Polisi yang mudah untuk diingat namun sulit untuk diikuti jejaknya. Yang menjunjung tinggi sebuah nilai Kejujuran sebagai harta yang tidak ternilai harganya. Dimana “Jabatan” merupakan amanah yang harus dipertanggung jawabkan secara penuh.

Baginya, profesi adalah kehidupan yang dijalani dengan lurus tanpa perlu berpura-pura agar mendapat tempat yang aman dalam suatu susunan organisasi. Namun beliau menunjukkan kinerja yang memang layak dan patut ditempatkan pada posisi-posisi jabatan strategis dan mampu mengayomi bawahan tanpa merendahkan namun memberi ilmu dan kesan yang tidak terlupa.

Pribadi Hoegeng yang fenomenal karena terkenal kesederhanaan dan kejujurannya ini pernah dijadikan sebagai guyonan Gus Dur presiden ke empat Indonesia. “Polisi yang baik itu cuma tiga; Pak Hoegeng almarhum bekas Kapolri, Patung Polisi, dan Polisi Tidur,” demikian ucapan Gus Dur. Guyonan ini begitu populer di masyarakat kita. 

Guyonan lama yang juga pernah dipakai oleh eks Kapolri Tito Karnavian dalam sejumlah kesempatan itu di unggah pula oleh seorang pria bernama Ismail Ahmad di Kepulauan Sula, Maluku Utara. Namun yang bersangkutan harus menjalani pemeriksaan gara-gara mengunggahnya di sosial media.

Adanya pemeriksaan oleh polisi terhadap Ismail Ahmad sehubungan guyonan Gus Dur tersebut menurut hemat saya merupakan perwujudan mental kepolisian yang masih bersifat militeristik dan sewenang wenang.  Karena itu wajah militeristik ini harus di ubah menjadi polisi yang berwajah sipil sehingga tidak sewenang wenang kepada masyarakat yang seharusnya di ayominya.

Pelajaran Pahit Dari Citra Pimpinan KPK

Berbeda dengan sosok-sosok teladan pimpinan dari kepolisian yang diceritakan di atas, kini ada cerita pahit tentang Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang berasal unsur kepolisian yaitu Firli Bahuri. Ia dilaporkan oleh ICW (Indonesian Corruption Watch) karena diduga mendapatkan gratifikasi dalam penyewaan helikopter. Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen (Pol) Agus Andrianto meminta institusi Polri tak ditarik-tarik terkait dugaan penerimaan gratifikasi KPK Firli Bahuri saat menyewa helikopter untuk perjalanan pribadi. 

Pernyataan Agus tersebut menanggapi laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) soal dugaan gratifikasi yang diterima Firli dari perusahaan penyewa helikopter, PT APU. “Jangan tarik-tarik Polri. Saat ini kami fokus kepada penanganan dampak kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional dan investasi,” kata Agus saat dihubungi wartawan, Jumat (4/6/2021). 

Menurut Agus, masalah tersebut sudah diselesaikan lewat sidang etik Dewan Pengawas KPK. Ia pun menyatakan, berkas laporan dari ICW akan diserahkan kepada Dewan Pengawas. Pada September 2020, Dewas KPK menjatuhkan sanksi ringan berupa teguran tertulis II kepada Firli setelah terbukti menggunakan helikopter untuk perjalanan pribadi pada Juni 2020. 

Dewan Pengawas menyatakan, Firli bersalah melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku KPK. “Nanti kami kembalikan ke Dewas saja. Kan sudah ditangani,” ujarnya. Diberitakan, ICW menduga Firli Bahuri menerima gratifikasi berupa potongan harga dari PT APU saat menyewa helikopter yang digunakan untuk perjalanan pribadinya. 

Atas dugaan itu serta sejumlah temuan yang berhasil dihimpun, ICW pun melaporkan Firli ke Bareskrim Polri, Kamis (3/6/2021). Peneliti ICW Wana Alamsyah mengatakan, tindakan yang dilakukan Firli memenuhi unsur-unsur Pasal 12B UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 

Wana pun berpendapat, Dewas KPK semestinya menelusuri lebih lanjut informasi yang disampaikan Firli saat sidang etik. Berdasarkan informasi yang dihimpun ICW, tarif helikopter yang disewa Firli mencapai Rp 39,1 juta per jam. “Kami mendapatkan informasi lain dari penyedia jasa lainnya bahwa harga sewa per jamnya yaitu 2.750 dollar AS atau sekitar Rp 39,1 juta,” katanya. 

Sementara itu, lanjut Wana, dalam sidang etik, Firli mengatakan harga sewa helikopter itu hanya Rp 7.000.000 per jam tidak termasuk pajak. Dengan pemakaian selama empat jam, Firli hanya membayar sekitar Rp 30,8 juta. “Kami total itu ada sebesar Rp 172,3 juta yang harusnya dibayar oleh Firli terkait dengan penyewaan helikopter tersebut. Ketika kami selisihkan harga sewa barangnya, ada sekitar Rp 141 juta yang diduga merupakan dugaan penerimaan gratifikasi atau diskon yang diterima Firli,” ucap Wana.

Meski masih berupa dugaan yang dilaporkan ke polisi, tak urung tuduhan tak sedap terhadap Ketua KPK Firli Bahuri amat sangat menurunkan citra pimpinan KPK yang tengah menghadapi berbagai sorotan tajam dari berbagai pihak termasuk masyarakat. Mulai dari kasus menurunnya penangkapan koruptor, penyingkiran para petugas KPK yang berbeda pandangan dengan Pimpinan melalui TWK (tes wawasan kebangsaan) yang kontroversial, penyuapan penyidik KPK dari unsur kepolisian oleh tersangka koruptor, dan kasus negative lainnya. Masalahnya, Firli Bahuriadlah pimpinan KPK dari unsur kepolisian yang berpangkat tinggi. Sedikit banyak juga mempengaruhi citra kepolisian pula.

Itulah berbagai cerita tentang citra pimpinan Polri dari tulisan di atas tentunya jadi pelajaran berharga yang dapat dipetik oleh kepolisian dalam menaikkan citranya. Tentunya hanya kisah citra pimpinan Polri yang sederhana dan teladan saja yang bsa menjadi contoh untuk dijaga dan dilaksanakan oleh para penerusnya. Sementara citra pimpinan Polri yang buruk jangan jadi contoh agar citra polisi makin baik di mata masyarakat Indonesia. Semoga!

(EKS/berbagai sumber)

 

Exit mobile version