Site icon Risalahnegeriku

Sederet Kisah Heroik Polisi di Berbagai Daerah

Kisah Heroik Polisi di Berbagai Daerah 1

Kisah Heroik Polisi di Berbagai Daerah 1

Tugas Polri melindungi, mengayomi dan melayani dalam prakteknya seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan. Kisah-kisah ini menunjukkan anggota Polri yang bekerja melampaui tugasnya karena integritas dan dedikasinya baik dalam menjaga Kamtibmas maupun misi kemanusiaan.

Jakarta – (30/06/2021). Beyond on call of duty – melebihi panggilan tugas, boleh jadi inilah kata yang tepat untuk menggambarkan beberapa anggota Polri yang telah bekerja sepenuh hati, tanggung jawab yang tinggi bahkan mempertaruhkan nyawa demi tegaknya keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayahnya. Mengikuti kisahnya sangat mengharukan, heroisme yang genuine– otentik, menunjukkan sejatinya polisi yang menjadi pelindung dan sahabat masyarakat.

Menolong Pasien

Video Wakapolres Jakarta Selatan, AKBP Antonius Agus Rahmanto menangis karena pasien Covid-19 yang ia tolong meninggal beredar di media sosial. Hal itu terlihat dalam video yang diunggah akun Instagram @warung_jurnalis pada Senin (28/6/2021).

Dalam video itu terlihat AKBP Agus  yang duduk di pinggir trotoar sambil menangis.Tepatnya di depan rumah sakit. Sesekali ia mengusap air matanya yang jatuh dengan lengannya. Kemudian dalam video berikutnya terlihat saat AKBP Agus mengevakuasi seorang pasien Covid-19 dari rumahnya untuk dibawa ke rumah sakit. Terlihat seorang pria yang mengenakan sarung dibopong oleh tiga petugas berAPD lengkap.

Warga yang terpapar Covid-19 itu kemudian dibawa masuk ke dalam sebuah mobil kijang. Sedangkan AKPB Agus nampak berada di belakang petugas untuk mengarahkan. “Evakuasi warga terkena Covid” ucap perekam video. Dilansir dari Kompas.com, pasien tersebut bernama Budi (59) warga Jagakarsa, Jakarta Selatan yang dievakuasi.

Pasien tersebut harus dibawa menggunakan mobil warga lantaran ambulans tidak bisa sampai ke dalam rumah pasien. Sedangkan kondisi pasien sudah dalam keadaan kritis. “Saya ini enggak kenal Pak Budi. Pak Budi salah satu warga di kampung di Jagakarsa. Di situ hampir separuhnya (terpapar Covid-19),” ucap Agus. AKBP Antonius berinisiatif memimpin evakuasi pasien meskipun dengan alat pelindung diri seadanya. Pasien kemudian digotong oleh petugas dengan evakuasi dipimpin AKBP Agus.

Petugas pun harus menggotong pasien melewati gang sempit sepanjang 100 meter. Budi kemudian dibawa ke RSUD Pasar Minggu menggunakan mobil kijang warga. “Saya bawa pakai mobil milik warga yang peduli. Ini kami bukan medis, kami hanya (pakai) hati nurani. Ini tanggung jawab kita semua,” lanjut AKBP Agus. Sampai di rumah sakit, ia sempat berkoordinasi dengan petugas supaya Budi segera ditangani sesuai prosedur.

Namun sayang, pasien meninggal dunia saat sampai di Rumah Sakit Pasar Baru. Mendengar pasien yang ia tolong meninggal dunia, AKPB Agus tak kuasa menahan tangisnya. Ia menyesal karena tidak membawa Budi dengan cepat. “Pak Budi ini satu jam yang lalu masih dapat bernapas, harusnya bisa tertolong. Kebetulan saya yang bawa langsung. Ada ambulans, tapi masih tanya lagi mau dibawa ke mana, enggak jalan-jalan juga,” kata Agus. Ia bahkan meminta maaf pada istri Budi karena tidak bisa menyelamatkan nyawa suaminya.

“Untuk Bu Budi, Saya minta maaf Bu, saya tadi janji mau bawa bapak sampai selamat. Mohon maaf Bu, ibu jaga kesehatan,” ujar AKBP Agus.

Kisah Heroik Tangkap Penjahat

Selanjutnya adalah kisah seorang anggota polisi yang dengan heroik membasmi tanpa mempedulikan keselamatannya. Adalah Bripka Devi Firmansyah, anggota opsnal Polsek Sukolilo Surabaya harus dijahit wajahnya setelah terluka akibat aksinya menangkap penjahat.

Ia terseret oleh motor penjahat jalanan. Akibatnya hidung dan bibir Bripka Firman harus dijahit akibat luka yang dialami. Kejadian dramatis itu berlangsung saat Bripka Firman tengah tengah berpatroli rutin bersama Aipda Rizal guna mengantisipasi kejahatan jalanan di Surabaya. Mereka berkeliling menggunakan dua kendaraan bermotor dan berpakaian preman.

Saat berada di Jalan Keputih Surabaya, Kamis (27/5/2021) sekitar pukul 01.20 WIB, kedua polisi itu mencurigai dua pemuda yang pernah dilaporkan melakukan pencurian sebuah handphone milik seorang juru parkir di jalan Ir Soekarno Surabaya. Berbekal ciri-ciri itu, kedua polisi tersebut menguntit kedua pemuda yang mencurigakan tersebut.

Anggota kami melihat ciri-ciri kendaraan dan ciri-ciri orang yang dilaporkan oleh korban telah melakukan pencurian. Berdasarkan itu, anggota kemudian membuntuti kedua pemuda itu saat berada di Jalan Keputih Surabaya,” kata Kanit Reskrim Polsek Sukolilo Surabaya, Iptu Zainul Abidin.

Saat diikuti, kedua pemuda tersebut mulai curiga dan menggeber motornya lebih kencang melintasi jalan Arif rahman hakim – klampis harapan – Jl. Semolo waru – Bratang – Ngagel – BAT – Dinoyo – Keputran – Urip Sumoharjo – Basra – Embong Malang – hingga di Jalan Kedung doro ( Penjual bunga makam/sekar ).

Disana semakin tampak kedua pemuda itu panik. Dua polisi itu lalu memepet dua pemuda mencurigakan tersebut. “Satu motor dari depan dan satunya dari belakang. Saat itulah kami berusaha melakukan penangkapan,” lanjut Abidin.

Satu pemuda yang dibonceng berhasil ditangkap usai motor Bripka Firman menabrakkan diri. Namun nahas, satu pemuda sebagai joki memilih tak menyerah. Bripka Firman terseret hingga luka pada bagian wajahnya, sementara Aipda Rizal mencoba menghentikan laju motor keduanya hingga terjatuh dan tersungkur. Dengan berjibaku, dua pemuda yakni WL (17) dan AS (17) berhasil ditangkap. Keduanya langsung mengakui perbuatannya pernah mencuri handpone dan hendak melakukan aksi kejahatan jalanan sebelum akhirnya ditangkap dua anggota opsnal itu.

Akibatnya, wajah Bripka Firman harus mendapatkan perawatan dengan dua jahitan di hidung dan bibir setelah terseret motor dua tersangka. “Saat ini sudah dalam tahap pemulihan. Prinsipnya, kami tidak akan membiarkan para pelaku kejahatan leluasa beraksi di Surabaya. Ini adalah wujud komitmen Polri menjaga kamtibmas khususnya warga Surabaya agar aman dan nyaman,”tandas Abidin.

Membopong Ibu Hamil

Kecuali heroisme menangkap penjahat seperti adegan di film laga, anggota Polri ini justru menjukkan sifat welas asih dan perhatian yang tinggi kepada sesama. Sosok Ipda Sigit Krisyanto (40) menjadi perhatian setelah menolong seorang wanita yang terjatuh dari sepeda motor karena melewati jalan berlubang.

Wanita itu bernama Septianingsih (22), warga Dukuh Bangak, Kelurahan Sine, Kecamatan Sragen Kota, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Perwira polisi yang menjabat sebagai Kanit Dikyasa Satlantas Polres Sragen menceritakan, peristiwa jatuhnya pengendara motor terjadi pada Sabtu (13/2/2021) pukul 05.30 WIB. Dirinya sedang melaksanakan patroli rutin terkait jalan rusak di Kawasan Sragen. Saat melintas di jalan tikungan tepatnya sekitar 500 meter barat Jembatan Mungkung, dirinya melihat ada pengendara motor terjatuh. Sigit menghentikan laju mobil untuk memberikan pertolongan. Ia membopong pengendara motor dan meminggirkan motornya di jalan Solo-Sragen.

“Ternyata ibu itu sedang hamil. Saya harus bertindak cepat karena rentan kondisi janinnya bagaimana,” kata Sigit. Saat dirinya sedang menolong wanita hamil itu, teman sesama anggota polisi melintas di lokasi kejadian menggunakan mobil Toyota Innova. Sigit menghentikan mobil temannya dan meminta membawa wanita hamil tersebut ke Puskesmas Sidoharjo.

“Kebetulan teman saya lewat namanya Aiptu Suwardi. Dia saya suruh berhenti. Kemudian saya bopong ibu itu dari pinggir jalan ke mobilnya Aiptu Suwardi. Saya kawal sampai ke puskesmas,” ungkap dia. Setelah wanita itu mendapat penanganan medis dan dipastikan baik-baik saja, Sigit meninggalkan Puskesmas Sidoharjo dan melanjutkan tugasnya.     Lebih lanjut, Sigit mengungkap jalan di kawasan barat Jembatan Mungkung sudah beberapa kali diperbaiki. Namun, tidak berselang lama rusak lagi. Menurut Sigit jalan tersebut sering tergenang air luapan Sungai Mungkung pada musim hujan. Di sisi lain juga terdapat pohon teduh yang membuat aspal jalan tidak bertahan lama dan mengelupas. “Jalan itu mudah terendam banjir luapan Sungai Mungkung. Semalam di situ banjir. Luapan airnya sampai ke rumah warga yang ada di seberang jalan,” kata Sigit.

Menyelam 20 Menit

Lain lagi cerita yang dihadapi oleh anggota Polair yang tak kalah heroiknya. Seorang personel Polair Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), Aipda Joel Bolang rela mempertaruhkan nyawanya saat menyelamatkan Leonard Lemeheriwa (11), seorang siswa SD yang sempat tenggelam dan hilang sehari di Sungai Baleno, Desa Fatukanutu, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang. Aksi heroiknya menyelamatkan pelajar SD tersebut dilakukan dalam kondisi menyelam selama 20 menit.

Bersama anggota timnya, perjuangan Aipda Joel tak bisa dipandang sebelah mata. Dia harus menyelam dalam pusaran air di dasar sungai selama puluhan menit, bergelut dengan derasnya arus dan jarak pandang yang terbatas. Kerja keras itu tak sia-sia. Aipda Joel Bolang akhirnya berhasil menemukan dan menyelamatkan Leonard pada hari kedua pencarian, Senin (17/5/2021).

Peristiwa bermula saat Leonard Laimeheriwa, pelajar SD asal Kelurahan Babau, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT, tenggelam ketika berekreasi di sungai. Bocah itu hilang saat mandi di Kali Bileno yang berada di Dusun II Bileno, Desa Fatukanutu, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang pada Minggu (16/5/2021).

Pencarian hari pertama tidak membuahkan hasil. Selanjutnya, keesokan harinya, pukul 09.00 WITA tim gabungan bersama masyarakat sekitar melakukan aksi gotong-royong untuk mengalihkan arus aliran air. Pukul 10.40 WITA, anggota Dipolair Polda NTT Aipda Joel Bolang melakukan pencarian dengan menyelam. Penyelaman tersebut menemui sejumlah kendala, antara lain jarak pandang terbatas dan derasnya arus.

Setelah kurang lebih 20 menit menyelam, aksi heroik Aipda Joel membuahkan hasil. Pukul 11.00 WITA, Aipda Joel Bolang  menemukan Leonard dalam keadaan hidup. Leonard yang sempat tersedot pusaran air itu ternyata tidak tidur semalaman demi memegang akar pohon agar nyawanya selamat. Direktur Polair Polda NTT, Kombes Andreas Susi Darto mengapresiasi aksi anggotanya tersebut dalam membantu menemukan korban.

“Penyelaman pencarian kedua dilaksanakan dengan hasil nihil dikarenakan derasnya arus dan jarak pandang terbatas. Namun pada pukul 10.40 WITA, penyelaman pencarian ketiga dilaksanakan dan hasil korban berhasil ditemukan dalam keadaan selamat,” ujar Andreas. Setelah ditemukan, Leonard pun langsung diserahkan ke ayah kandungnya Jidon Laimeheriwa (41). Keluarga pun melaksanakan ibadah syukur karena Leonard Laimeheriwa yang hilang ditemukan dalam keadaan hidup.

Tewas Saat Mengejar Penjahat

Sungguh luar biasa pengorbanan Joel. Tak kalah heroiknya adalah cerita Bripka Mashudin yang tewas tenggelam saat mengjar penjahat. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menaikkan pangkat anggota polisi dari Kalimantan Selatan (Kalsel) yang tewas tenggelam ketika mengejar seorang penjahat.

“Almarhum Mashudin mendapatkan penghargaan kenaikan pangkat luar biasa anumerta dari Bripka ke Aipda berdasarkan surat telegram Kapolri yang terbit hari ini,” terang Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Rachmat Hendrawan.

Diketahui Mashudin sebelumnya dinyatakan hilang tenggelam di Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, ketika bergumul dengan seorang buron tindak pidana penganiayaan pada Jumat (9/4) malam sekitar pukul 20.00 WITA.

Peristiwa naas menimpa korban itu diawali saat Tim Buser Unit Reskrim Polsekta Banjarmasin Tengah dipimpin Kapolsekta Banjarmasin Tengah Kompol Irwan Kurniadi ingin meringkus pelaku atas nama Faisal terlapor 351 KUHP yang diketahui keberadaannya duduk di dermaga Pasar Bawang tepi Sungai Martapura. Bripka Mashudin langsung menangkap sang target, namun tersangka melakukan perlawanan sehingga keduanya tercebur ke sungai.

Pada saat di dalam sungai, Bripka Mashudin dan pelaku bergumul dan tidak lama kemudian korban meminta tolong dengan melambaikan tangan. Kemudian polisi lainnya yaitu Bripka Rahmat langsung meloncat ke sungai untuk menolong, namun karena ombak dan arus sungai yang deras, korban dan tersangka tenggelam dan hilang.

Jasad Bripka Mashudin ditemukan tak bernyawa pada Minggu pagi sekitar pukul 05.36 WITA, sekitar 300 meter dari titik menghilangnya. Sementara tersangka yang juga tenggelam hingga berita ini ditulis belum ditemukan.

“Kami berterima kasih kepada petugas gabungan dalam misi pencarian dan alhamdulilah hari ini ditemukan. Kepada keluarga agar tabah menerima takdir Allah SWT,” tutur Kapolresta sebagaimana dilansir Antara.

Ditegaskan Rachmat, gugur dalam tugas adalah pengabdian terbaik dari seorang insan Bhayangkara sejati. Untuk itulah, dia memohon doa dari seluruh masyarakat agar almarhum diberikan ampunan atas segala salah dan khilaf semasa hidup serta mendapatkan surga di akhirat.

“Saya mewakili pimpinan Kapolda Kalsel Irjen Pol Rikwanto menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya bagi seluruh anggota atas pengabdian terbaik dalam tugas di tengah segala risiko yang dihadapi,” katanya.

Mengelola Taman Baca

Aksi seorang polisi di Raja Ampat patut menjadi inspirasi. Dia mengelola dan mengembangkan taman baca di Kampung Arborek, Kabupaten Raja Ampat. Polisi heroik itu adalah Bripka Manase Patti Peme, anggota Bhabinkamtibmas.

Dengan menggunakan perahu motor tempel sederhana, Manase setiap hari berusaha menjemput anak-anak usia sekolah dasar di kampungnya untuk belajar bersama di taman baca.

Kehadiran taman baca Kemala yang sudah enam tahun ini cukup membantu anak-anak di Kampung Kampung Arborek untuk memberikan tambahan ilmu dan membangkitkan budaya literasi sejak dini.

Meski anak-anak ini berada di pulau yang jauh dari hiruk pikuk kemajuan pendidikan, namun kehadiran taman baca ini membawa misi yang mulia. Perjuangan Bripka Manase yang putra asli Papua dilakukan sejak 2,5 tahun sejak dia menjadi Bhabinkamtibmas di sana. Program literasi ini menjadi program andalan dalam bertugas di Kampung Arborek.

Dia cukup totalitas dalam menjalankan programnya. Cuaca lautan yang kadang tak bersahabat tidak menyurutkannya setiap hari berangkat dari rumahnya yang berjarak 30 menit mengarungi lautan.

Rasa lelah dan risiko di lautan seolah tidak menjadi penghambat. Bahkan, rasa lelah itu langsung terbayarkan jika dia tiba di taman baca anak-anak ini. Anak-anak telah menyambutnya dengan penuh semangat belajar. Ada yang membaca buku, mewarnai dan membaca.

“Yang penting dilakukan dengan ikhlas dan dedikasi yang tinggi. Rasa lelah itu terbayarkan saat melihat anak-anak semangat belajar,” katanya. Bagaimana di masa pandemi COVID-19 ini? Aktivitas di taman baca juga menyesuaikan, yaitu berlaku protokol kesehatan. Anak-anak yang akan masuk taman baca diwajibkan cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

“Semua ini sebagai upaya sekaligus bentuk edukasi sejak dini kepada anak-anak terkait penerapan protokol kesehatan COVID-19,” tambah Bripka Manase merupakan Bhabinkamtibmas generasi ketiga.

Biasanya, setelah sekolah tatap muka, usai sekolah anak-anak langsung datang ke taman baca untuk belajar. Bahkan ada yang mengerjakan tugas dengan mengambil referensi di situ.

Manase berharap dengan taman baca ini anak-anak di kampung Aroborek ini dapat sukses menggapai cita-citanya.

Tiga bulan tak pernah pulang

Seorang perwira menengah dari Polresta Malang Kota terduduk lesu di pinggiran nisan makam. Ia baru saja menyelesaikan tugas memakamkan jenazah pasien Covid-19. Sesekali mengecek ponselnya, apakah ada telepon masuk dari keluarga di rumah. Maklum sudah lebih dari 3 bulan tidak bertemu anak istri, jadi rasa rindu terhadap keluarga selalu hadir dalam benaknya.

Namun, demi membantu warga dalam pemulasaraan jenazah covid, ia rela meninggalkan keluarga selama lebih dari 3 bulan ini. Total sudah 70 jenazah yang ia dan timnya makamkan. Tapi apa yang mereka lakukan tak sia-sia, apalagi mendapat perhatian khusus dari pemimpin tertingginya, Kapolri. Ya, kisah heroik perwira yang disebut warga malang sebagai kasat pemakaman ini, mendapatkan apresiasi dari Kapolda Jatim hingga Kapolri.

Awalnya, tujuan Kapolresta Malang Kota membentuk tim relawan yang diketuai Kompol Sutiyono ini, hanya untuk membantu warga dan tidak pernah menyangka sampai melakukan pemakaman hingga 70 jenazah, bahkan pernah 8 jenazah dalam satu hari. Sutiono bekerja dibantu 5 anggota polisi lainnya.

Selain Kompol Sutiyono sebagai ketua tim, ada 5 anggota relawan lainnya yakni Ipda Zainul Arifin, Aiptu Arif Santoso, Aipda Abdillah Cholid, Bripka Pery Budi dan Briptu Mubin Nurhuda. Bukan hanya menguburkan, keenam polisi itu pun mensholatkan jenazah yang muslim.

Tak jarang, Sutiyono yang kini menjabat Kasat Intelkam Polresta Malang Kota ini, bersama timnya mensholatkan jenazah covid 19 sendiri lantaran tak ada yang berani mensholatkan. Bukan hanya siang hari, pemakaman jenazah covid 19 inipun sering dilakukan saat dini hari. Pasalnya tak semua orang bisa memakamkan jenazah pasien covid 19, personil pemakaman harus dilengkapi dengan APD dan bekal keterampilan tertentu.

Pemakaman jenazah Covid 19 ini bukannya tanpa hambatan, perdebatan kadang terjadi lantaran masih ada keluarga pasien yang menolak dimakamkan dengan protokol kesehatan Covid-19. Ia pun bersama timnya harus memberikan pemahaman kepada kelurga pasien untuk meminimalisir penyebaran covid 19.

Untuk melepas lelah, tak jarang kasat intelkam bersama timnya pun tidur di tempat seadanya. Bahkan, mereka terkadang juga tidur di atas pusara maupun di kamar mayat. Selama masa pandemi, sudah hampir tiga bulan Sutiyono tak pulang ke rumah. Untuk mengobati rasa rindu dengan keluarga yang berada di luar kota, ia hanya bisa berkomunikasi melalui panggilan video call. “Protes dari keluarga sudah pasti terutama dari putri bungsu saya, karena gak pulang-pulang. Tapi ini saya lakukan demi kemanusiaan dan menjaga keselamatan keluarganya, lantaran ia bersinggungan langsung dengan pasien covid 19,” tuturnya.

Demikian sederet kisah anggota Bhayangkara yang bertindak melebihi panggilan tugasnya demi tegaknya Kamtibmas dan kemanusiaan. Itulah sejatinya ciri anggota Polri yang diidamkan masyarakat. Harapannya Polisi masa depan adalah polisi sahabat masyarakat, kehadirannya selalu dirindukan. Apakah akan segera terwujud wajah Polri sahabat masyarakat ini? Kembali kepada seluruh anggota Polri. Kalau cita-cita itu masih jauh, tapi dengan sederet kisah heroik ini, setidaknya kita telah melihat titik terang di lorong gelap yang panjang. (Saf).

Exit mobile version