JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas sumbangsih jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mendukung berbagai program strategis pemerintah, mulai dari ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga pemeliharaan situasi keamanan nasional.
Pernyataan tersebut mengemuka dalam pertemuan tertutup yang mengumpulkan sebanyak 800 perwira tinggi (Pati) TNI-Polri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Pertemuan berskala besar yang berlangsung secara intensif tersebut memakan waktu sekitar enam jam. Berdasarkan pantauan di lokasi, para Pati TNI-Polri mulai memasuki area Istana sejak pagi sebelum acara inti dimulai pukul 10.00 WIB dan baru meninggalkan kompleks istana pada sore hari.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman, dalam keterangannya kepada awak media usai pertemuan, mengungkapkan bahwa Kepala Negara memberikan perhatian khusus terhadap pentingnya peningkatan profesionalisme prajurit di tengah dinamika global yang kian kompleks.
“Presiden mengucapkan terima kasih atas sumbangsih TNI dan Polisi yang selama ini mendukung program pemerintah baik ketahanan pangan, ketahanan energi, termasuk menjaga situasi keamanan saat ini. Beliau mengapresiasi,” ujar Menko Polkam Dudung Abdurachman.
Selain apresiasi atas capaian yang ada, Presiden Prabowo turut memberikan arahan mendasar terkait transformasi sistem rekrutmen prajurit di masa depan. Seleksi masuk institusi pertahanan dan keamanan dinilai perlu bergeser dari sekadar mengandalkan ketahanan fisik menuju penilaian yang lebih komprehensif terhadap kapasitas intelektual calon personel.
“Kemudian harus menyiapkan juga secara profesional baik sistem rekrutmen ke depan itu adalah tidak serta melihat tentang fisik, tetapi adalah intelektual. Jadi kalau misalnya masuk tentara, polisi pakai kacamata juga boleh, tapi dia pintar,” jelas Dudung.
Dalam arahannya, Presiden juga menyoroti pergeseran karakter peperangan modern yang kini mengarah pada hybrid warfare, termasuk pemanfaatan teknologi nirawak seperti drone. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan, kurikulum pelatihan, serta penguasaan teknologi mutakhir menjadi fokus utama yang harus dikuasai oleh setiap prajurit TNI dan Polri.
“Karena tantangan ke depan ini kan perang itu kan perang hybrid, perang pakai drone dan sebagainya. Sehingga itu yang menjadi konsentrasi Bapak Presiden. Kemudian juga tentang situasi global saat ini juga perlu disikapi dengan meningkatkan bagaimana profesionalisme prajurit harus ditingkatkan baik pendidikan maupun latihan,” pungkasnya.



